Kabarmu

Aksi Heroik Relawan MDMC Kota Pekalongan Evakuasi Korban Banjir, Termasuk Bantu 1 Keluarga Non-Muslim

MOZAIKMU – Relawa MDMC Kota Pekalongan kembali menunjukkan totalitasnya dalam membantu penanggulangan bencana banjir di Kota Pekalongan sejak Jumat (16/1/2026) malam. Dalam dua hari, Sabtu sampai Ahad (17-18/1/2026), relawan Muhammadiyah ini secara maraton telah mengevakuasi warga terdampak banjir di tiga lokasi lengkap dengan berbagai aksi heorik dan dramatik.

Relawan MDMC Kota Pekalongan memang telah disiagakan sejak beberapa waktu terakhir guna merespon potensi cuaca ekstrem yang diprediksikan BMKG maupun BPBD Kota Pekalongan, sekaligus mengantisipasi siklus banjir tahunan yang rutin melanda Kota Pekalongan.

Sesuai laporan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) MDMC Kota Pekalongan, banjir yang berlangsung sejak Jumat malam sampai Ahad (16-18/1/2026) terjadi secara merata di 4 kecamatan di Kota Pekalongan. Banjir dipicu karena tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan sejumlah sungai di Kota Pekalongan tak mampu menahan debit air hingga meluap ke jalan dan pemukiman warga yang lebih rendah dan cekung.

“Banjir terjadi merata di empat kecamatan, sedikitnya ada 20 kelurahan yang terdampak. Ketinggian air berkisar 20 sampai 80 centimeter” ungkap Ketua LRB / MDMC Kota Pekalongan, Heri Kuswanto, Ahad (18/1/2026) malam.

Relawan MDMC Kota Pekalongan (1)
Kegiatan evakuasi warga terdampak banjir di Kelurahan Tirto.

Menurut Heri, beberapa lokasi yang terdampak banjir cukup parah tersebar di Tirto, Podosugih, Pasirkramatkraton Sapuro Kebulen, Bendan Kergon, Pringrejo, Medono serta Buaran Kradenan dengan ketinggian air mencapai 80 an cm. Akibat tingginya air, sejumlah warga pun memilih mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

“Sesuai data kami, total ada 1.400 an jiwa yang mengungsi, mereka tersebar di 13 titik pengungsian,” terangnya.

BACA JUGA: Kerennya Dakwah Sosial Muhammadiyah, Posko Mudikmu Aman 2025 Manjakan Pemudik dengan Layanan Medis sampai Wifi Gratis

Totalitas MDMC Kota Pekalongan Evakuasi Korban Banjir

Relawan MDMC Kota Pekalongan 5
Relawan MDMC Kota Pekalongan saat mengevakusi satu keluarga non-muslim, salah satunya lansia dengan kondisi kaki patah tulang.

Para relawan Muhammadiyah yang dikomandoi MDMC Kota Pekalongan memang menunjukkan totalitasnya dalam menunaikan misi kemanusiaan membantu penanggulangan bencana banjir di Kota Pekalongan. Sebagai relawan yang memiliki skill dan kompetensi kebencanaan, MDMC juga telah menyiagakan Posko Siaga Bencana Muhammadiyah Kota Pekalongan setidaknya dalam dua bulan terakhir. Posko tersebut dipusatkan di Sekretariat Bersama Gedung PDM Kota Pekalongan Jl. KH. Mas Mansyur No. 2 Kota Pekalongan.

Menurut Heri, sejak masuk musim hujan, relawan Muhammadiyah Kota Pekalongan secara bergiliran melakukan piket di posko sebagai bentuk antisipasi sekaligus kesiapsiagaan terhadap setiap potensi bencana yang mengancam Kota Pekalongan.

Selama penanggulangan banjir, MDMC Kota Pekalongan menerjunkan sebanyak 19 relawan di hari Sabtu. Jumlah tersebut mencakup fungsi Tim Assessment Data dan Informasi, Logistik, dan Tim SAR. Sementara di hari Ahad mereka menerjunkan 13 prsonel relawan Muhammadiyah untuk menjalankan peran yang sama.

Menurut Heri, selama dua hari tim SAR telah membantu evakuasi warga terdampak banjir di tiga lokasi berbeda. Total ada 36 jiwa yang dibantu evakuasi. Rinciannya, di Jl. Merbabu MDMC Kota Pekalongan mengevakuasi 1 anak, 3 remaja, dan 3 orang dewasa. Lalu di Jl. Kurinci mengevakuasi 1 lansia, d dewasa dan 1 anak.

Evakuasi terbanyak dilakukan di Kelurahan Tirto pada Ahad (18/1/2026), yakni menjangkau 2 bayi, 2 anak, dan 20 dewasa.

Evakuasi paling dramatis dilakukan di Jl. Kurinci Kelurahan Podosugih, Sabtu (17/1/2026) dinihari sekira pukul 01.30 WIB. Relawan MDMC Kota Pekalongan harus mengevakuasi satu keluarga, termasuk seorang lansia dengan kondisi kaki sedang patah tulang.

Menariknya, keluarga ini diketahui adalah warga nonmuslim, namun itu tak menghalangi semangat relawan untuk membantu mengevakuasi mereka.

“Ini proses evakuasi yang cukup memakan waktu dan tenaga, karena untuk mengevakuasi lansia dengan kaki yang sedang patah pulang ini tidak boleh asal angkat. Kami harus pinjam tandu, posisinya juga hujan. Dan akses keluar masuk kamarnya ini sempit jadi kami harus ekstra hati-hati. Tapi alhamdulillah, satu keluarga ini akhirnya berhasil kami evakuasi dengan baik,” jelas Heri.

Kisah lainnya adalah penanganan warga terdampak banjir di Kelurahan Tirto, khususnya di kawasan Perumahan Griya Sejahtera. Pasalnya, dari 24 warga yang dievakuasi, sebagian diketahui adalah para Pimpinan dan kader Muhammadiyah Kota Pekalongan. Termasuk Ketua PDM Kota Pekalongan, Dr. HM. Hasan Bisysri M.Ag. yang juga menjadi terdampak banjir dan terpaksa mengungsi ke Kajen.

Aktivitas relawan MDMC Kota Pekalongan bersama LLHPB Aisyiyah dan PDNA Kota Pekalongan menyiapskan bantuan makanan untuk didistribusikan ke sejumlah lokasi terdampak banjir.

Selain membantu evakuasi korban banjir relawan MDMC Kota Pekalongan juga mendirikan dapur umum di Sekber. Dapur umum ini dioperasikan secara kolaboratif bersama LLHPB Aisyiyah – PDNA Kota Pekalongan pada Senin sampai Selasa (19-20/1/2026).

“Untuk hari senin, kita distribusikan sebanyak 320 nasi bungkus untuk makan malam ke sejumlah titik banjir,” ucap Heri saat mendistribusikan logistik ke Masjid Dhiyaausyams Poncol, Senin malam.

Sementara Selasa pagi ini, 20 Januari 2026, relawan MDMC Kota Pekalongan bersama LLHPB Aisyiyah dan PDNA Kota Pekalongan kembali mendistribusikan ratusan bungkus sarapan untuk warga terdampak banjir di lima lokasi.

Totalitas relawan MDMC Kota Pekalongan bersama LLHPB Aisyiyah dan PDNA Kota Pekalongan ini juga diapresiasi Ketua PDM Kota Pekalongan, Dr. HM. Hasan Bisysri. Ia menyampaikan terima kasih kepada segenap relawan Muhammadiyah yang telah membantu menanggulangi banjir di Kota Pekalongan.

“MDMC Kota Pekalongan bersama relawan Muhammadiyah lainnya ini menjadi wajah atau etalase Muhammadiyah saat terjadi bencana, merekalah yang berada di garda depan untuk membantu warga terdampak bencana. Sebagai relawan, mereka tidak dibayar, ini murni panggilan jiwa,” tandasnya. (sef)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button