Isinya Boleh Orang Tua, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di Kota Pekalongan Tetap Semangat Isi Aplikasi Sicara dan Simasmu
MOZAIKMU – Sumber daya manusia ranting dan masjid Muhammadiyah konon masih didominasi orang-orang tua. Bahkan ada yang mengidentikkan Muhammadiyah sebagai organisasinya orang-orang tua. Lantas bagaimana para orang tua ini beradaptasi dalam pengelolaan organisasi di tengah keniscayaan bertransformasi digital?
Dilema tersebut setidaknya cukup tergambarkan dalam proses pengembangan aplikasi Sicara dan Simasmu, utamanya bagi struktur Persyarikatan tingkat ranting dan masjid Muhammadiyah. Meski kedua aplikasi digital ini sudah diperkenalkan sejak lebih dari setahun lalu, namun pada prosesnya banyak ranting dan masjid Muhammadiyah yang kesulitan memanfaatkannya.
Kondisi ini juga terpantau saat Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting dan Pembinaan Masjid Musala (LPCR-PM) PDM Kota Pekalongan memfasilitasi pengisian aplikasi Sicara dan Simasmu untuk Cabang, ranting dan masjid Muhammadiyah di Masjid Al-Istiqomah PRM Setono Kota Pekalongan, Jumat (12/12/2025) siang. Dari hampir 50an peserta yang hadir, sekitar separuhnya adalah orang-orang tua atau berusia di atas 50 tahun.

Namun usia ternyata tak serta merta menjadi penghalang untuk belajar dan beradaptasi. Nyatanya para pengurus PRM maupun takmir masjid tetap bersemangat untuk mencoba menaklukkan aplikasi melalui ponsel pintarnya, meski tetap saja diwarnai ketergagapan, rajin tanya kanan kiri, hingga minta dipandu peserta yang lainnya.
Kondisi ini diakui Pleno PDM Kota Pekalongan, ustadz Supriyanto, menjadi tantangan tersendiri dalam mensukseskan pengembangan program aplikasi sistem informasi cabang dan ranting (Sicara) maupun sistem informasi masjid Muhammadiyah (Simasmu).
“Maka kalau ranting dan masjid Muhammadiyah di Kota Pekalongan rodo lambat mengisi aplikasi Sicara maupun Simasmu, ini bisa dimaklumi. Makanya kami berharap LPCR proaktif, bila perlu jemput bola untuk mempercepat target entri data ini. Karena kalau menunggu inisiatif cabang, dan terutama ranting dan masjid Muhammadiyah ini, sepertinya sulit juga,” kata ustadz Supri.
- BACA JUGA: Safari Ramadan 1446 H di Masjid Dhiyaausyams, PDM Kota Pekalongan Soroti Isu Ranting dan Masjid
Momentum Tertib Organisasi Bagi Ranting dan Masjid Muhammadiyah

Menurut Supriyanto, kehadiran aplikasi Sicara dan Simasmu ini perlu didukung semua pihak, terutama cabang dan ranting Muhammadiyah, yang memang masih didominasi kepengurusannya oleh orang-orang tua. Sebab program ini justru menjadi momentum untuk memperkuat tertib organisasi serta tata kelola administrasi di basis Muhammadiyah.
“Ini masalah klasik, masjid ini harus dibuatkan SK nya oleh PRM, begitu logika organisasinya. Supaya masjid ini juga tidak merasa besar sendiri, karena bagaimanapun ia menjadi bagian dari amal usaha Muhammadiyah tingkat PRM. Jadi mumpung ada program ini, momentumnya harus dimaksimalkan betul untuk penertiban organisasi,” tandasnya.
Sementara Ketua LPCR-PM PDM Kota Pekalongan, Muhammad Amin melalui Sekretaris LPCR-PM, M. Bilal, pun mengamini soal kendala dalam pengisian dua aplikasi ini. Namun kondisi ini menurutnya menjadi gejala yang merata di tingkat wilayah dan mungkin secara nasional.
“Untuk tingkat PWM Jateng, informasinya baru 4 daerah yang sudah menyelesaikan entri data Sicara dan Simasmu, seperti Klaten dan Purbalingga. Yang lain masih on progress, termasuk Kota Pekalongan yang cukup tertinggal,” terangnya.
Saat ini LPCR-PM PDM Kota Pekalongan harus berkejaran dengan waktu guna menyelesaikan pengisian Sicara dan Simasmuh sesuai deadline, yakni maksimal 25 Desember 2025. Karena itu, sebagai tindak lanjut Bilal menyebut akan ada pendampingan langsung per klaster PCM guna memudahkan pengisian bagi ranting dan masjid Muhammadiyah.
“Silakan PCM mengagendakan tanggalnya, nanti kami akan turun untuk mendampingi ranting dan masjid menyelesaikan entri data. Mudah-mudahan sebelum tanggal 20 Desember seluruhnya sudah clear,” ujarnya.
Fasilitasi ini sendiri terselenggara melalui kolaborasi LPCR-PM dengan Majelis Tabligh PDM serta Lazismu Kota Pekalongan. Selain Supriyanto, anggota Pleno PDM lainnya yang hadir ada HM. Ghozali, yang notabene juga Ketua Takmid Masjid Al-Istiqomah Setono.
Dalam kesempatan ini, Lazismu Kota Pekalongan juga sekaligus mentasharufkan program peduli takmir masjid. Total ada 34 masjid yang terdata, di mana Lazismu menyalurkan bantuan sebesar total Rp14.250.000.
Bilal berharap aplikasi Sicara dan Simasmu ini menjadi pemantik bagi cabang, ranting dan masjid Muhammadiyah untuk meningkatkan tata kelola organisasi dan administrasi. Lebih dari sekadar isi data, dua aplikasi ini menurut Bilal menjadi kanal PP Muhammadiyah dalam memonitor dan mengevaluasi kondisi kesehatan PCM, PRM, dan AUM masjid.
“Aplikasi ini dilengkapi dengan indikator untuk mengukur apakah PCM, PRM serta masjid ini dalam kondisi sehat secara tata kelola organisasi atau tidak, sehingga database ini bisa menjadi rujukan kinerja LPCR dan UPP lainnya, dari tingkat PPP sampai Daerah,” jelas M. Bilal. (sef)



