Kabarmu

Halalbihalal Muhammadiah Kota Pekalongan, Ketua PDM Singgung Isu Krisis Mubaligh sampai Polemik Musik

MOZAIKMU – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pekalongan akhirnya berkesempatan melaksanakan kegiatan Halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan pada Ahad, 19 Syawal 1445 H/2024 di Masjid Al-Hikmah Podosugih Kota Pekalongan.

Dengan konsep nan bersahaja, halalbihalal ini tetap mampu menjadi ruang silaturahim yang hangat bagi seluruh unsur kepemimpinan di Persyarikatan Muhammadiyah sekaligus merefleksikan sejumlah isu aktual yang menyangkut Muhammadiyah.

Halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini memang mengundang-hadirkan Pleno PDM Bersama Unsur Pembantu Pimpinan (UPP), Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Pekalongan beserta Badan Pembantu Pimpinan (BPP), Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA), PD IPM dan IMM, Pimpinan Daerah Hizbul Wathan Kota Pekalongan, Tapak Suci Kota Pekalongan, unsur Amal Usaha Muhammadiyah atau AUM se Kota Pekalongan, Pleno PCM se Kota Pekalongan, dan lainnya.

Selaku tuan rumah, Ketua PCM Pekalongan Barat, Ustadz Khatib Amrulloh menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kehadiran sebagian besar unsur kepemimpinan Muhammadiyah Kota Pekalongan. Dia berharap kehadiran keluarga besar Muhammadiyah Kota Pekalongan ini bisa membuka pintu rahmat dan keberkahan.

Sementara Ketua PDM Kota Pekalongan, Ustadz Doktor Hasan Bisysri berharap kesederhanaan penyelenggaraan halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan kali ini tidak mengurangi nilai dari halalbihalal itu sendiri.

Ghirah Bermuhammadiyah dari Halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan

Unsur Ortom Perempuan Daerah Kota Pekalongan melakukan sesi foto bersama.

Selain untuk membawa semangat silaturahim dan saling memaafkan, Halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini juga diharapkan meningkatkan soliditas organisasi sekaligus ghirah bermuhammadiyah. Sebagai mubaligh, Ustadz Hasan Bisysri menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dijawab setiap kader maupun pengurus untuk benar-benar hidup menjadi Muhammadiyah atau pengikut risalah Nabi Muhammad Saw.TESDia pun mencontohkan hal sederhana, yakni soal kaifiyah ibadah. Dalam hal wudhu misalnya, sudahkan amaliah warga Muhammadiyah mengikuti tuntunan Rasulullah sebagaimana dipedomani Majlis Tarjih?

“Maka ngajinya juga harus diperkuat.Karena saya sendiri kadang menjumpai, warga yang wudhunya masih asal-asalan, padahal baru ngaji bab wudhu misalnya. Nah, hal-hal seperti ini juga perlu dibenahi terus menerus, sekaligus untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah juga Majlis Tarjih yang membahas dan memutuskan perkara-perkara keagamaan, dari politik sampai muamalah, termasuk soal musik misalnya,” kata Ustadz Hasan Bisysri dalam sambutan dan arahannya.

Ya, Ustadz Hasan Bisysri memang memanfaatkan kesempatan halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini untuk merefleksikan sejumlah permasalahan maupun isu aktual yang terkait dengan Muhammadiyah.

Termasuk isu krusial yang belakangan Kembali menghangat, yakni soal anggapan Muhammadiyah mengalami krisis dai dan mubaligh. Namun alih-alih mengafirmasi atau menegasi isu tersebut, Hasan Bisysri justru mengajak para pimpinan dan kader Muhammadiyah untuk memerdulikan nasib para ustadz-ustadz Muhammadiyah di kampung-kampung atau Ranting Muhammadiyah.

“Selama ini kita hanya memikirkan jamaah dan warga Muhammadiyah, bagaimana memakmurkan masjid, menghidup-hidupi pengajian, tetapi lupa bagaimana memikirkan nasib ustadz-ustadz kita di kampung, bagaimana kesejahteraannya. Mereka banyak berjuang, tetapi nasibnya kadang kurang terpikirkan. Kalau mereka mampu mungkin gak masalah, tapi kalua hidupnya saja masih kesulitan, ini tugas kita untuk merawat mereka. Mari rawat masjidnya, rawat pengajiannya, tapi rawat juga ustadz-ustadznya, para mubaligh kita yang istiqomah membina jamaah di ranting-ranting,” jelas Hasan Bisysri.

Kecuali itu, Ustadz Hasan Bisysri juga sempat menyentil siang sengkarut masalah hukum music yang belakangan ramai di media social karena ceramah Ustadz Adi Hidayat yang diserang habis-habisan kelompok salafi.

“Padahal masalah ini sudah lama diputuskan Tarjih, tapi kita mau menyanyikan mars Muhammadiyah di masjid saja masih takut-takut. Padahal mars itu kan isinya ikrar, dan itu kisi-kisi pertanyaan di alam kubur. Untuk menunjukkan kita Muslim, melalui Muhammadiyah. Insyhadu bianna muslimun,” tandasnya.

Jajaran Pleno PDM Kota Pekalongan bersama UPP, Ortom Daerah, PCM dan AUM se Kota Pekalongan saat sesi foto bersama.

Penguatan ghirah bermuhammadiyah juga Kembali digarisbawahi oleh Ustadz M.Isa Anshori dalam sesi ceramah halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini. Sebagai mubaligh muda, Ustadz Isa juga menyinggung soal dinamika bermuhammadiyah anak-anak muda yang seringkali butuh suasana dan cara yang berbeda.

“Karena yang muda-muda ini biasanya kurang suka dengan yang formil-formil, maunya yang lebih santai. Ya kajian bisa dilakukan di kafe misalnya. Nah aspirasi-aspirasi semacam ini yang kadang perlu didengar juga oleh para senior, toh yang penting ngajinya jalan, kreativitas mereka juga jalan,” pesan Ustadz Isa.

Sementara itu, Sekretaris PDM Kota Pekalongan, Aslam Fatkhudin menyebut kegiatan halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini secara umum berlangsung sukses. Meski acaranya sangat sederhana, namun semua unsur pimpinan Muhammadiyah dan Ortom daerah, PCM hingga AUM hadir seluruhnya.

“Sesederhana apapun, halalbihalal ini tetap dibutuhkan sebagai semacam ruang kalibrasi, sekaligus meningkatkan interaksi silaturahim antar kita semua yang berjuang di Persyarikatan.

Menurut Aslam, interaksi sesama unsur pimpinan di Persyarikatan ini pastilah pernah menyisakan selisih pandang, perdebatan, ketersinggungan dan sekawannya. Karena itu, halalbihalal Muhammadiyah Kota Pekalongan ini diharapkan bisa mengikhlaskan khilaf dan alpa yang pernah ada, sekaligus mengishlahkan antar hati yang mungkin pernah terluka. (sef)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button